TANGGAPAN PERTUMBUHAN DAN DAYA HASIL DUA KLON TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth.) TERHADAP DOSIS PEMUPUKAN UREA, SP-36, DAN KCl

Sugiatno Sugiatno

Abstract

Produktivitas minyak nilam secara nasional masih rendah, rata-rata hanya 97,53 kg/ha/tahun. Upaya
untuk meningkatkan produktivitas minyak nilam salah satunya adalah dengan penggunaan klon nilam unggul
dan pemupukan yang berimbang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tanggapan pertumbuhan dan
daya hasil dua klon tanaman nilam terhadap berbagai dosis pupuk urea, SP-36, dan KCl. Penelitian dilaksanakan
di Kebun Percobaan BPTP Lampung, Natar Lampung Selatan dari bulan Mei hingga November 2007. Penelitian
disusun secara faktorial (2 X 6) dalam rancangan kelompok teracak sempurna dengan 3 ulangan. Faktor pertama
adalah dua klon tanaman nilam terdiri atas Klon Tapaktuan dan Sidikalang. Faktor kedua adalah dosis pupuk
urea, SP-36, dan KCl per hektar yang terdiri atas 0 kg urea + 0 kg SP-36 + 0 kg KCl (D0), 125 kg urea + 50 kg
SP-36 + 50 kg KCl (D1), 187,5 kg urea + 75 kg SP-36 + 75 kg KCl (D2), 250 kg urea + 100 kg SP-36 + 100 kg
KCl (D3), 312,5 kg urea + 125 kg SP-36 + 125 kg KCl (D4), dan 375 kg urea + 150 kg SP-36 + 150 kg KCl
(D5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pertumbuhan dan daya hasil tanaman nilam klon Tapaktuan lebih
baik daripada klon Sidikalang, (2) pemupukan urea, SP-36, dan KCl pada tanaman nilam dengan dosis D4
(312,5 kg urea + 125 kg SP-36 +125 kg/ha KCl ) memberikan pertumbuhan dan daya hasil tertinggi, dan (3)
rendemen minyak nilam tertinggi dicapai oleh klon Sidikalang pada dosis pupuk D5 (375 kg Urea + 150 kg SP-
36 +150 kg/ha KCl).
Kata kunci: Klon tanaman nilam, dosis pupuk, pertumbuhan, daya hasil

 

ABSTRACT
Patchouli oil’s productivity in Indonesia is still low, it’s about 97,53 kg/ha/year. One of the way that can
be done to increase it’s productivity is by using superior clone and balance fertilizer. The objective of this
research is to study growth and yield responds of two clones of patchouli plant to urea, SP-36, and KCl dosage.
This research was conducted at BPTP Lampung research field in Natar, South Lampung from May to November
2007. The experiment was factorial design (2X6 factors) with randomized completely block design with three
replications. The first factor was clone of patchouli plant that is Tapaktuan and Sidikalang. The second factor
was urea, SP-36, and KCl dosage, consist of 0 kg urea + 0 kg SP-36 + 0 kg KCl/ha (D0), 125 kg urea + 50 kg
SP-36 + 50 kg KCl/ha (D1), 187,5 kg urea + 75 kg SP-36 + 75 kg KCl/ha (D2)l 250 kg urea + 100 kg SP-36 +
100 kg KCl/ha (D3), 312,5 kg urea + 125 kg SP-36 + 125 kg KCl/ha (D4), and 375 kg urea + 150 kg SP-36 +
150 kg KCl/ha (D5). Result shows that (1) the growth and the yield’s level of patchouli plant from Tapaktuan’s
clone is better than Sidikalang’s clone, (2) the fertilizing of urea, SP-36, and KCl in patchouli plant with D4
dosage (312,5 kg urea + 125 kg SP-36 +125 kg/ha KCl ) gives the highest result of growth and yield’s level of
the patchouli plant, and (3) the highest patchouli oil’s content is gain by Sidikalang’s clone with D5 dosage (375
kg Urea + 150 kg SP-36 +150 kg/ha KCl).
Key words: patchouli plant clone, fertilizer dosage, plant growth, yield

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.